MOTIVASI
Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi)
seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan
suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri
(motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).
A. Pentingnya Motivasi
Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati
seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa
dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan
menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses
untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah
mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.
Lalu apa pentingnya motivasi dalam kehidupan? Tentu saja
penting, motivasi adalah merupakan suatu energi dalam diri manusia yang dapat
mendorong untuk melakukan aktivitas tertentu dengan tujuan tertentu, contohnya,
tanpa motivasi seorang siswa tidak akan membaca, belajar dan sekolah dan akhirnya
tentu saja tidak akan mencapai suatu keberhasilan dalam belajar. Begitupula dengan kehidupan sehari-hari, kita
pasti memiliki motivasi untuk melakukan banyak hal, mencapai cita-cita dan lainnya.
Tanpa motivasi, kita tidak akan bias melanjutkan hidup dengan baik, karena
motivasi seperti jiwa dalam cita-cita.\
Pentingnya motivasi dalam hidup berasal dari Sumber
motivasi itu
sendiri , berikut sumber informasi :
a) Motivasi Internal yaitu motivasi dari dalam diri, dari
perasaan dan pikiran
diri sendiri, tidak perlu adanya rangsangan dari luar.
Orang yang memiliki
motivasi internal, akan memandang dirinya secara positif.
Sebagai contoh,
seseorang yang melakukan aktivitas belajar secara terus
menerus tanpa
adanya motivasi dari luar dirinya dan bila ditinjau dari
segi tujuan
kegiatannya, orang tersebut ingin mencapai tujuan yang
terkandung di dalam
perbuatan belajar itu sendiri, misal karena ingin
mendapatkan pengetahuan,
bukan karena tujuan yang lain.
b) Motivasi eksternal yaitu motivasi dari luar atau
mendapatkan rangsangan
dari luar. Sebagai contoh, motivasi seseorang timbul
karena dari bacaan yang
memotivasi, lingkungan, atau dari kehidupan keseharian.
Sehingga bila
ditinjau dari segi tujuannya orang tersebut tidak
langsung terjun didalam apa
yang dilakukannya. Hal ini sangat diperlukan bagi orang
yang tidak memiliki
motivasi internal.
Dari hal yang telah disebutkan di atas, maka motivasi
tidak hanya timbul dari
dalam diri kita secara sendirinya tetapi dapat
ditimbulkan oleh faktor luar atau
rangsangan luar. Dan motivasi yang terdapat dalam diri
saya lebih kepada
motivasi eksternal. Motivasi tersebut timbul tidak dari
diri saya tetapi
ditimbulkan oleh faktor luar seperti termotivasi untuk
mendapatkan hasil atau
nilai yang baik, dari dukungan orang tua, dan meraih
cita-cita yang diinginkan.
Namun tak selamanya motivasi eksternal itu timbul,
sehingga kita perlu
menumbuhkan motivasi internal dalam diri kita.
Dan berikut tips untuk menumbuhkan motivasi secara
internal :
1. Menciptakan Imbalan. Kalau kita melakukan sesuatu(A),
misal belajar
maka akan mendapatkan hasil atau IPK yang tinggi. Dengan
begitu diri kita
akan termotivasi untuk melakukan sesuatu yang berguna(A).
2. Ambil selalu langkah kecil. Terkadang untuk
mendapatkan sesuatu yang
besar perlu langkah-langkah kecil.
3. Menciptakan Kesusahan. Hal ini merupakan kebalikan
dari yang pertama.
misalnya kalau kita tidak melakukan sesuatu (B), misal
belajar, maka kita
tidak akan mendapatkan IPK yang tinggi. Tentu kita akan
termotivasi untuk
melakukan tindakan ini(B).
4. Susun Rencana beserta langkah-langkahnya. Dengan
memiliki rencana,
kita seolah-olah punya alur dan plot menuju tujuan secara
teratur. Secara
tidak langsung ini akan memotivasi dalam mencapai tujuan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan
sesuatu
dorongan yang akan membuat kita selalu semangat dalam
melakukan
kegiatan untuk mencapai suatu tujuan. Misal, seorang
suami bekerja keras
mencari uang demi memberi makan keluarganya. Tanpa adanya
motivasi,
cita-cita atau tujuan yang kita targetkan akan sulit
terwujudkan karena
kurangnya semangat dalam mencapai tujuan tersebut. Dan
dengan memiliki
motivasi yang kuat, kita akan akan memiliki apresiasi dan
penghargaan yang
tinggi terhadap diri dan hidup ini, sehingga tidak ada
keraguan dalam
mencapai tujuan atau cita-cita kita.
B. Pandangan Motivasi Dalam Organisasi
Motivasi seperti yang telah disebutkan diatas akan
mempengaruhi,
mengarahkan, dan berkomunikasi dengan bawahannya yang
selanjutnya
akan menentukan efektivitas manajer. Ada dua factor yang
mempengaruhi
tingkat prestasi seseorang, yaitu kemampuan individu dan
pemahaman
tentang perilaku untuk mencapai prestasi yang maksimal,
disebut presepsi
peranan. Dimana diantara motivasi, kemampuan dan presepsi
peranan
merupakan satu kesatun yang saling berinteraksi.
Motivasi dapat juga disebut dengan istilah kebutuhan,
desakan, keinginan,
atau dorongan, yang semuanya ini mempunyai pengertian
yang sama yaitu
sebagai suatu keadaan yang ada pada diri seseorang yang
mendorong untuk
melakukan suatu kegiatan guna mencapai keinginan atau
tujuan. Dorongan
ini biasanya diwujudkan dalam bentuk perilaku.
Pandangan motivasi dalam organisasi ini dapat dilihat
dari tiga jenis teori
motivasi yang ada, yaitu model tradisional, model
hubungan, manusiawi dan
model sumber daya manusiawi.
Model Tradisional
Tidak lepas dari teori manajemen ilmiah yang dikemukakan
oleh
Fredrich Winslow Taylor. Model ini mengisyaratkan
bagaimana
manajer menentukan pekerjaan-pekerjaan yang harus
dilakukan
dengan system pengupahan insentif untuk memacu para
pekerja
agar memberikan produktivitas tinggi.
o
Teori produktivitas memandang bahwa tenaga kerja pada
umumnya malas, dan hanya dapat dimotivadi dengan
memberikan penghargaan dalam ujud materi. Pendekatan ini
cukup efektif dalam banyak situasi sejalan dengan
peningkatan
efisiensi. Disini pemutusan hubungan kerja sudah
merupakan
suatu kebiasaan dan para pekerja akan mencari jaminan
daripada
hanya kenaikan upah kecil dan sementara.
o
Model Hubungan Manusiawi
Elton Mayo dan para peneliti hubungan manusiawi lainnya
menemukan bahwa kontak-kontak social karyawan pada
pekerjaannya adalah penting, kebosanan dan tugas yang
rutin
merupakan pengurang dari motivasi. Untuk itu, para
karyawan
perlu dimotivasi melalui pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
social
dan membuat mereka berguna dan penting dalam organisasi.
o
Para karyawan diberikan kebebasan membuat keputusan
sendiri dalam pekerjaannya, untuk para pekerja indormal
perlu
mendapat perhatian yang lebih besar. Lebih banyak
informasi
disediakan untuk karyawab tentang perhatian manajer dan
operasi organisasi.
o
Model Sumber Daya Manusia
McGregor, Maslow, Argyris dan Likert mengkritik model
hubungan manusiawi bahwa seorang bawahan tidak hanya
dimotivasi dengan memberikan uang atau keinginan untuk
mencapai kepuasan, tapi juga kebutuhan untuk berprestasi
dan
memperolah pekerjaan yang berarti, dalam arti lebih
menyukai
pemenuhan kepuasan dari suatu prestasi kerja yang baik,
diberi
tanggung jawab yang lebih besar, untuk pembuatan
keputusan
dan pelaksanaan tugas.
o
C,
Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak
menentukan terhadap kualitas perilaku yang
ditampilkannya, baik dalam
konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya..
Kajian tentang
motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri
bagi kalangan
pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan
dengan kepentingan
upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam
konteks studi
psikologi, Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan
bahwa untuk
memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa
indikator,
diantaranya:
(1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3)
persistensi pada kegiatan; (4)
ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi
rintangan dan
kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai
tujuan; (6) tingkat
aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang
dilakukan; (7) tingkat
kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai
dari kegiatan yang
dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.
Untuk memahami tentang
motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang
motivasi, antara
lain : (1) teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan); (2)
Teori McClelland
Teori-teori Motivasi
(Teori Kebutuhan Berprestasi); (3) teori Clyton Alderfer
(Teori ERG); (4) teori
Herzberg (Teori Dua Faktor); (5) teori Keadilan; (6)
Teori penetapan tujuan;
(7) Teori Victor H. Vroom (teori Harapan); (8) teori
Penguatan dan Modifikasi
Perilaku; dan (9) teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
(disarikan dari
berbagai sumber : Winardi, 2001:69-93; Sondang P.
Siagian, 286-294; Indriyo
Gitosudarmo dan Agus Mulyono,183-190, Fred
Luthan,140-167).
1. Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow
pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia
mempunyai lima tingkat
atau hierarki kebutuhan, yaitu :
(1) kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti
: rasa lapar, haus,
istirahat dan sex
(2) kebutuhan rasa aman (safety
needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga
mental, psikologikal dan
intelektual
(3) kebutuhan akan kasih sayang (love needs)
(4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada
umumnya
tercermin dalam berbagai simbol-simbol status dan
(5) aktualisasi diri (self actualization), dalam arti
tersedianya kesempatan bagi
seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam
dirinya
sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan
kedua
(keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara
lain, misalnya
dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer,
sedangkan yang
lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan
sekunder. Terlepas dari
cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang
jelas adalah bahwa
sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda
satu orang dengan
yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik.
Juga jelas
bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi,
akan tetapi bersifat
pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga
spiritual.
Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya
organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan
makin
mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam
kehidupan
organisasional, teori “klasik” Maslow semakin
dipergunakan, bahkan
dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau
“koreksi” tersebut
terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang
dikemukakan
oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai
tingkatan. Atau secara
analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa
menaiki suatu tangga
berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua,
ketiga dan
seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada
pemuasan kebutuhan
manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan
kebutuhan
tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan
tingkat pertama
yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga
tidak akan
diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman,
demikian pula
seterusnya.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai
kebutuhan
manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi”
dirasakan bukan
hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena
pengalaman
menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan
manusia
berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan
kebutuhan fisik,
seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa
aman, merasa
dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila
berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian
dan bukan
sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan
bahwa :
Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin
akan timbul
lagi di waktu yang akan datang;
Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan
fisik,
bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi
pendekatan kualitatif
dalam pemuasannya.
Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik
jenuh” dalam
arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak
lagi dapat
berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini
tampak lebih
bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan
mengilhami bagi
pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada
kebutuhan
berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.
2. Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk
mencapai
prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan
bahwa motivasi
berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang
akan prestasi.
Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan
kebutuhan akan
prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan
sesuatu tugas atau
pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau
mengorganisasi obyek-
obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal
tersebut secepat
mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang
berlaku. Mengatasi
kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai
performa puncak
untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan
pihak lain.
Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat
secara berhasil.”
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi
tinggi
(high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu : (1)
sebuah preferensi untuk
mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat;
(2) menyukai
situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena
upaya-upaya mereka
sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti
kemujuran misalnya; dan
(3) menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan
kegagalan mereka,
dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
3. Teori Clyton Alderfer (Teori “ERG)
Teori Alderfer dikenal dengan akronim “ERG” . Akronim
“ERG”
dalam teori Alderfer merupakan huruf-huruf pertama dari
tiga istilah yaitu : E
= Existence (kebutuhan akan eksistensi), R = Relatedness
(kebutuhanuntuk
berhubungan dengan pihak lain, dan G = Growth (kebutuhan
akan
pertumbuhan)
Jika makna tiga istilah tersebut didalami akan tampak dua
hal
penting. Pertama, secara konseptual terdapat persamaan
antara teori atau
model yang dikembangkan oleh Maslow dan Alderfer. Karena
“Existence”
dapat dikatakan identik dengan hierarki pertama dan kedua
dalam teori
Maslow; “ Relatedness” senada dengan hierarki kebutuhan
ketiga dan
keempat menurut konsep Maslow dan “Growth” mengandung
makna
sama dengan “self actualization” menurut Maslow. Kedua,
teori Alderfer
menekankan bahwa berbagai jenis kebutuhan manusia itu
diusahakan
pemuasannya secara serentak. Apabila teori Alderfer
disimak lebih lanjut
akan tampak bahwa :
Makin tidak terpenuhinya suatu kebutuhan tertentu, makin
besar pula
keinginan untuk memuaskannya;
Kuatnya keinginan memuaskan kebutuhan yang “lebih tinggi”
semakin
besar apabila kebutuhan yang lebih rendah telah
dipuaskan;
Sebaliknya, semakin sulit memuaskan kebutuhan yang
tingkatnya lebih
tinggi, semakin besar keinginan untuk memuasakan
kebutuhan yang
lebih mendasar.
Tampaknya pandangan ini didasarkan kepada sifat
pragmatisme oleh
manusia. Artinya, karena menyadari keterbatasannya,
seseorang dapat
menyesuaikan diri pada kondisi obyektif yang dihadapinya
dengan antara lain
memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang mungkin
dicapainya.
4. Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi
penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang
dikembangkannya
dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu
faktor motivasional
dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional
adalah hal-hal yang
mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang
berarti bersumber
dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan
faktor hygiene
atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya
ekstrinsik yang berarti
bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku
seseorang dalam
kehidupan seseorang.
Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor
motivasional
antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang
diraih, kesempatan
bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang
lain. Sedangkan
faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara
lain status
seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu
dengan atasannya,
hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik
penyeliaan
yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi,
sistem administrasi
dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang
berlaku.
Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori
Herzberg ialah
memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih
berpengaruh kuat
dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik
ataukah yang bersifat ekstrinsik
5. Teori Keadilan
Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia
terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi
kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima. Artinya, apabila seorang
pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua
kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih
besar, atau Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas
yang menjadi tanggung jawabnya.
Dalam menumbuhkan persepsi tertentu, seorang
menggunakan empat hal sebagai pembanding, yaitu :
Harapannya tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak
diterima
berdasarkan kualifikasi pribadi, seperti pendidikan,
keterampilan, sifat
pekerjaan dan pengalamannya;
Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi
yang kualifikasi
dan sifat pekerjaannnya relatif sama dengan yang
bersangkutan sendiri;
Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi
lain di kawasan
yang sama serta melakukan kegiatan sejenis;
Peraturan perundang-undangan yang berlaku mengenai jumlah
dan
jenis imbalan yang merupakan hak para pegawai
Pemeliharaan hubungan dengan pegawai dalam kaitan ini
berarti bahwa
para pejabat dan petugas di bagian kepegawaian harus
selalu waspada
jangan sampai persepsi ketidakadilan timbul, apalagi
meluas di kalangan para
pegawai. Apabila sampai terjadi maka akan timbul berbagai
dampak negatif
bagi organisasi, seperti ketidakpuasan, tingkat
kemangkiran yang tinggi,
sering terjadinya kecelakaan dalam penyelesaian tugas,
seringnya para
pegawai berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan
masing-masing,
pemogokan atau bahkan perpindahan pegawai ke organisasi
lain. pegawai biasanya
6. Teori penetapan tujuan (goal setting theory)
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan
memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni :
(a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian;
(b) tujuan-tujuan mengatur upaya;
(c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan
(d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan
rencana-rencana kegiatan. Bagan berikut ini menyajikan tentang model instruktif
tentang penetapan tujuan.
7. Teori Victor H. Vroom (Teori Harapan )
Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And
Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori
Harapan”. Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang
ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya
akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang
sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya
terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan
berupaya mendapatkannya. Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori
harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan
sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup
besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang
diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya
itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.
Di kalangan ilmuwan dan para praktisi manajemen sumber
daya manusia teori harapan ini mempunyai daya tarik tersendiri karena penekanan
tentang pentingnya bagian kepegawaian membantu para pegawai dalam menentukan
hal-hal yang diinginkannya serta menunjukkan cara- cara yang paling tepat untuk
mewujudkan keinginannnya itu. Penekanan ini dianggap penting karena pengalaman
menunjukkan bahwa para pegawai tidak selalu mengetahui secara pasti apa yang
diinginkannya, apalagi cara untuk memperolehnya.
8. Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di
muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada
kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan
berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun
ditentukan oleh persepsi tersebut. Padahal dalam kehidupan organisasional
disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai
konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai
faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah
perilaku.
Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum
pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku
yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan
mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang
mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.
Contoh yang sangat sederhana ialah seorang juru tik yang
mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik dalam waktu singkat. Juru tik tersebut
mendapat pujian dari atasannya. Pujian tersebut berakibat pada kenaikan gaji
yang dipercepat. Karena juru tik tersebut menyenangi konsekwensi perilakunya
itu, ia lalu terdorong bukan hanya bekerja lebih tekun dan lebih teliti, akan
tetapi bahkan berusaha meningkatkan keterampilannya, misalnya dengan belajar
menggunakan komputer sehingga kemampuannya semakin bertambah, yang pada
gilirannya diharapkan mempunyai konsekwensi positif lagi di kemudian hari.
Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang
terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai
ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan
sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada
modifikasi
perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat
tugas. Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk
modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia
yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut
ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.
9. Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model
motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem
motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model
tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para
pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan
imbalan dengan prestasi seseorang individu .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar