Minggu, 22 April 2018

Salah Satu Cerpen

Pelajaran pagi itu menyenangkan, tapi dibuat jadi tak menyenangkan oleh gurunya. Gaya mengajar yang monoton dan hanya memperbolehkan siswa memperhatikan, membuat pak Tinus sang guru Astronomi, populer sebagai juara menidurkan siswa. Semangatku lenyap. Tanpa sadar kepalaku terkulai bagai ayam yang mencium aroma biji jambu mete bakar. Sedikit lagi kumasuki alam mimpi kalau saja kapur sialan itu tak menghantam kepalaku.

“Rios! Sudah dua kali kamu mendapat lemparan kapur. Lemparan ketiga silahkan angkat kaki dari kelas ini”, ultimatum pak Tinus yang membuat aku tak mengantuk lagi. Teman-teman lain tertawa. Padahal aku tahu pasti bahwa mereka juga mengantuk. Tapi kubiarkan saja pekerjaan menertawakan aku itu menjadi pengobat kantuk mereka. Untunglah pelajaran segera berakhir. Hormat penutup kami mengiringi kaki pak Tinus keluar kelas. Seakan koor syukur berakhirnya masa gelap.

Terdengar suara Frengki yang keras tak biasanya. Sepertinya ia ingin agar semua siswa mendengarnya. Dengan bangga ia bercerita tentang keberhasilannya lolos dari pemeriksaan Romo Prefek di kamar tidur tadi pagi. Sang Romo tak menemukannya karena ia bersembunyi di kolong tempat tidur. Aku tahu kebiasaan Romo Prefek memeriksa kamar tidur pada waktu anak-anak sedang misa pagi. Jadi aku tidak tinggal di kamar tidur tapi di belakang kamar tidur, di atas sebuah pohon yang cukup tinggi.

Aku kini merasa bahwa melanggar aturan telah menjadi ajang penunjukan kejantanan. Telingaku panas, hatiku kembang-kempis. Segala kata dari mulutnya kurasa sebagai buluh yang menggelitik kedengkian dan emosiku. Dasar! Sudah buat salah malah dibanggakan! Aku merasa seperti kalah satu tingkat di bawah Frengki. Perasaanku seperti perasaan seorang yang sama-sama mencalonkan diri sebagai legislatif dengan temannya tapi temannya berhasil lolos sedangkan ia tidak. Merasa tak sanggup lagi menahan luapan kedengkian, aku pun keluar dari kelas.

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar