Jumat, 06 Juli 2018

Makalah Hakekat Hidup

A.    Judul
Hakekat Hidup

B.     Latar Belakang Masalah
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Filsafat adalah induk pengetahuan, sebab derivasi segala nalar pengetahuan berasal dari filsafat. dialektika fungsional dengan berbagai pengetahuan lahir dari sebuah perjalanan panjang.antara dimensi kuriositas manusia dengan potensi kealaman dan kemanusian. dari dialektika tersebut, lahirlah berbagai peradaban manusia yang tidak terbatas dan tidak pernah terpikirkan oleh founding father filsafat itu sendiri.
Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan. Sedangkan, filsafat mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif.
Ini berarti, apa yang tidak bisa dijawab oleh ilmu, maka filsafat berupaya mencari jawabannya, bahkan ilmu itu sendiri bisa dijadikan objek kajian filsafat. Namun demikian, filsafat dan ilmu mempunyai kesamaan dalam menghadapi objek kajiannya yakni berfikir reflektif dan sistematis, meski dengan titik tekan pendekatan yang berbeda.

C.     Analisa Masalah
1.       Apakah sebenarnya hakikat hidup itu? Pertanyaan ini dipelajari oleh Metafisika
2.       Apakah yang dapat saya ketahui? Permasalahan ini dikupas oleh Epistemologi.
3.       Apakah manusia itu? Masalah ini dibahas olen Atropologi Filsafat.


D.    Alternatif Masalah
1.       Apa saja unsur-unsur dari hakekat hidup itu?
2.       Bagaimana kita dapat menjelaskan kaitan antara kehidupan di lingkungan dengan hakekat hidup?




E.     Solusi dari Masalah

A.        Filsafat Kehidupan
Hidup adalah yang menunjukkan masih berada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya.
Orang dapat dipengaruhi oleh dua pandangan hidup, yaitu:
1)      Mekanisme
Memandang segala kejadian di dunia ini sebagai suatu atomatisme belaka, suatu kejadian yang dengan sendirinya harus terjadi sebagai akibat dari suatu rentetan hukum sebab-akibat (Cause-Effect).
Yang dimaksud “sesuatu yang mekanis” menunjuk pada tiga arti:
a.       Sesuatu yang menunjuk pada teori mesin
b.      Sesuatu yang menunjuk pada fisio-kimiawi
c.       Sesuatu yang menunjuk pada proses kerja kausalistik
2)      Vitalis
Menganngap adanya hidup sebagai prinsip yang lepas dari segala kebendaan. Hidup itu dapat bermanifestasi (menyatu) dalam benda yang mempunyai susunan tertentu, kemudian benda itu kita sebut hidup. Kalau susunan benda itu rusak maka hidup tidak lagi menyatu (bersemayam) di dalamnya, dengan kata lain makhluk tersebut dianggap mati.
Henry Bergson (1859-1941), seorang vitalisme yang terkemuka, berpendapat bahwa hidup itu merupakan proses yang berarah tujuan , bergerak maju ke bentuk-bentuk hidup yang semakin tinggi hingga sangat muskil. Perkembangan itu karena adanya “hasrat hidup” (elan vital). Elan vital terus terus menerus mendorong organisme hidup terus bergerak menyerap hidup. Sehingga terbentuk bentuk-bentuk hidup yang baru  (evolusi).

Makhluk hidup
-         Tumbuh-tumbuhan, hanya dapat bertahan hidup dari gangguan makhluk lain.
-         Hewan, tidak hanya dapat bertahan hidup, tetapi juga dapat berlari dari kejaran musuhnya.
-         Manusia, tidak hanya sekedar bertahan dan berlindung, tetapi bahkan dapat memikirkan mengapa musuhnya berbuat demikian dan merencanakan strategi balasan.
Kehidupan adalah yang menunjukkan kondisi hidup seperti kehidupan dunia, akhirat dan lain-lain.



Hidup sekarang:
Hidup yang dulu: ketika kita merasakan seakan pernah datang ke suatu tempat, padahal tempat itu baru pertama kali kita kunjungi atau bahkan tempat tersebut baru dibangun, maka tempat itu diberitahukan pada alam hidup yang dulu.

Hidup yang nanti:
Dapat dirasakan oleh kita dan lebih-lebih penguasa yang dzalim tindakannya akan diperhitungkan pada hidup yang akan datang, tempat di mana semuanya harus dipertanggungjawabkan. Hal ini dalam kajian agama disebut akhirat.

B.        Kesimpulan yang didapat
Setiap orang pasti menginginkan kemuliaan hidup entah bagaimana cara untuk mendapatkannya. Kemuliaan seseorang tentunya memiliki tolak ukur sangat relatif yang dihadapkan dengan keinginan seseorang. Bagi orang yang memiliki tolak ukur yang tinggi tentu orang tersebut sangatlah menginginkan perubahan positif dalam hidupnya. Perubahan positif tersebut tentunya sangat beragam ada yang menginginkan jabatan yang lebih tinggi, pangkat yang terhormat, kekayaan yang melimpah dan masih banyak lagi. Bagi orang yang memiliki tolak ukur yang rendah tentunya merekalah sekelompok orang yang tergolong “menerima apa adanya”. Segala yang diterimanya dirasa cukup dan “sesuatu yang lebih” bukanlah inti dari tujuan mereka.
Hakikat hidup mewarnai hidup seseorang dan merupakan salah satu motivator terhandal yang melandasi tindakan setiap manusia untuk mencapai suatu kemuliaan. Terlepas dari agama dan hal-hal yang berkenaan dengan “ keakhiratan”, semua orang memiliki hakikat masing-masing yang merupakan kesimpulan dari pengalaman-pengalaman hidup seseorang. Ada orang yang meyakini bahwa hidupnya adalah untuk hobinya entah itu olahraga, seni, ataupun sampai berkaitan dengan hal yang buruk seperti melakukan kejahatan. Adapula orang yang memiliki hakikat bahwa dia adalah orang yang mampu mengubah kehidupan menjadi yang lebih baik sehingga dia akan berusaha keras untuk meraihnya.
Hakikat setiap orang itu selalu berubah seiring dengan tingkat kematangan seseorang. Hakikat hidup akan senantiasa berubah melandasi setiap tindakan manusia. Bertahannya suatu hakikat hidup tentunya dilandasi oleh banyak faktor yang sangat abstrak yang hanya diketahui oleh setiap individu. Ada yang mengatakan seperti “be your self!” tentunya hakikat kehidupan ini masih dipertanyakan seberapa kuat bahwa dia mampu meyakini bahwa menjadi diri sendiri adalah benar-benar hakikat dari hidupnya. Tentunya sangatlah beruntung bagi seseorang yang mampu mempertahankan hakikat hidupnya, karena saya akan menjamin bahwa orang tersebut adalah orang yang sangat nyaman menjalani hidupnya.
Berubah selalu ada batasnya hingga nanti akan mencapai suatu titik dimana perubahan tersebut tidak akan dimungkinkan lagi. Begitu juga dengan hakikat hidup, dengan tingkat kematangan yang sangat matang tentunya orang tersebut seyakin-yakinnya akan menemukan sesuatu bahwa sesuatu itulah yang merupakan hakikat hidup sejati. Mengapa saya mengatakan tingkat kematangan yang sangat matang dan seyakin-yakinnya? Karena hakikat hidup sangat membutuhkan proses dimana kematangan yang sangat matang itulah tujuan akhir seseorang hidup yang dipegang hingga akhir hayatnya dan saya sangat yakin dengan hal itu.
Bagaimana dengan orang yang selama hidupnya belum menemukan hakikat hidupnya? Saya sangat yakin bahwa tidak ada orang yang tidak dapat menemukan hakikat hidup. Di detik-detik terakhir hidup seseorang, pasti seseorang akan terlintas tanpa disadari dan secara cepat akan menyadari hal tersebut bahwa itulah hakikat hidup setiap manusia. Terlepas terlambat atau tidak terlambat hanya orang tersebutlah yang mampu mengetahuinya. Namun bagi saya, orang mengalami hal tersebut adalah orang yang tergolong sangat merugi dan tidak dapat menikmati sebuah keindahan dalam hidupnya.

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar